Hindari Pelecehan Seksual Jika Ingin Membangun Relasi dengan Budaya Lain

Tempat wisata di Kapal Pesiar

Southern Night, salah satu pertunjukan di Kapal Pesiar

Akhir-akhir ini saya sering menemukan beberapa kasus di surat kabar nasional tentang pelecehan seksual. Pelecehan-pelecehan seksual tidak hanya terjadi pada perempuan tetapi juga terjadi pada laki-laki dengan berbagai usia dan latar belakang kebudayaan.

Saya melihat ada berbagai faktor kenapa pelecehan seksual terlihat marak menghias surat kabar. Pertama-tama adalah pemahaman dan kesadaran dari masing-masing pribadi tentang apa itu pelecehan seksual. Baik perempuan atau laki-laki mulai menyadari dan mengetahui bahwa mereka mengalami pelecehan seksual. Faktor berikutnya adalah kesadaran tersebut diiringi dengan keberanian untuk melaporkan tindakan pelecehan seksual itu kepada otoritas yang berwenang.

Saya membahas tentang pelecehan seksual karena ini adalah bagian yang paling penting ketika saya bekerja di Holland America Line. Holland America Line benar-benar serius menerapkan aturan mengenai pelecehan seksual dan melanggar aturan ini berakibat pada pemecatan bahkan berurusan dengan pihak berwajib.

Tempat wisata di Kapal Pesiar

Black Jack Tournament. Salah satu aktivitas yang dilakukan oleh Crew di Ms. Prinsendam

Untuk bekerja di atas kapal pesiar itu tidak mudah. Di tempat ini saya tidak hanya bekerja dengan rekan kerja satu negara tetapi di dalamnya berisi puluhan warga negara dengan berbagai perbedaan entah perbedaan fisik (tinggi badan, berat badan, jenis kelamin, dan lain-lain), perbedaan sosial (budaya, hubungan keluarga, status ekonomi, dan lain-lain), perbedaan kepribadian (watak, motif, sikap, dan lain-lain), perbedaan tingkat kecerdasan dan perbedaan kecakapan atau kepandaian.

Berbagai perbedaan itu bisa saya temukan di atas kapal pesiar dan sebagai perusahaan multinasional, Holland America Line harus mempunyai aturan jelas agar mereka dapat berhasil mencapai visi dan misi perusahaan.

Salah satu aturan yang saya bahas di bagian ini adalah tentang pelecehan seksual. Pemahaman tentang pelecehan seksual ini penting jika ingin berhasil masuk ke dalam pergaulan sebuah budaya baru.

Tempat wisata di Kapal Pesiar

Meskipun dalam suasana pesta yang ramai masing-masing orang saling menghargai dan menjaga untuk tidak melakukan pelecehan seksual

Apa itu pelecehan seksual? Menurut Equal Employment Opportunity Commission (EEOC), pelecehan seksual itu adalah gerakan seksual yang tidak diinginkan, permintaan akan layanan seksual, dan tindakan verbal atau fisik yang bersifat seksual.

Pelecehan seksual itu tidak harus bersifat seksual, tetapi dapat mencakup pernyataan ofensif tentang seks seseorang. Contoh, melecehkan seorang perempuan dengan membuat komentar ofensif tentang perempuan pada umumnya, seperti perempuan itu tugasnya memberi kepuasan seksual buat laki-laki atau berperilaku sexism. Contoh perilaku sexism itu adalah laki-laki beranggapan bahwa perempuan terlalu emosional dan perempuan beranggapan bahwa laki-laki terlalu agresif.

Baik korban dan pelaku pelecehan itu kedua-duanya bisa laki-laki atau perempuan  dan baik korban dan pelaku bisa mempunyai jenis kelamin yang sama. Contoh para pelaku pelecehan seksual di tempat kerja bisa supervisor, supervisor di departemen lain, sesama rekan kerja atau seseorang yang bukan pekerja di tempat itu seperti klien atau pengguna jasa.

Begitu pun dengan pelaku pelecehan seksual di kampus, di transportasi umum, dan seterusnya, adalah orang-orang yang ada di sekitar kita. Jadi para pelaku pelecehan seksual itu bukan saja laki-laki dan korbannya perempuan, tetapi juga bisa terjadi pada sesama perempuan dan sesama laki-laki. Pemahaman ini penting karena kita pun bisa sekaligus adalah pelaku pelecehan seksual dan korban pelecehan seksual.

Satu kata penting kenapa disebut pelecehan karena ada kata kunci di dalam definisi pelecehan seksual yaitu, ‘tidak diinginkan’. Kata tidak diinginkan bukan berarti pemaksaan. Akan tetapi bisa diartikan bahwa korban dapat menyetujui perilaku itu bahkan ikut berpartisipasi di dalamnya dan mereka berpikir seakan-akan itu pantas.

Saya akan memberi contoh, ketika berada di kantor, teman atau rekan kerja bergurau masalah seks. Kasarnya begini, ada seorang perempuan daerah bekerja di Jakarta dan dia baru menjalin hubungan serius dengan seseorang. Salah satu rekan kerja di ruangan itu bertanya, “Sudah sampai sejauh apa pacarannya?” dan perempuan itu menjawab bahwa kemarin malam keningnya dicium.

Lama kelamaan rekan kerja yang ada di ruangan tersebut mulai bergurau dengan candaan seksual seperti “Ciumannya dimulai dari kening kemudian ke bibir atas dan ke bibir bawah”, dan candaan lainnya. Perempuan itu mungkin tertawa dan ia menerima sebagai gurauan, akan tetapi hal itu masuk dalam pelecehan seksual.

Tempat wisata di Kapal Pesiar

Salah satu pelatihan di Ms. Prinsendam. Setiap saat keterampilan crew selalu diasah dan dilatih. Baik itu yang berhubungan dengan keselamatan, keamanan, kesehatan bahkan pelecehan seksual.

Agar lebih jelas pelecehan seksual seperti apa, saya mempunyai daftar panjang contoh apa itu pelecehan seksual menurut Equal Employment Opportunity Commission (EEOC).  Jenis pelecehan seksual antara lain, pelecehan seksual dengan kata-kata (verbal), pelecehan seksual tanpa kata-kata (non-verbal), dan pelecehan seksual secara fisik.

Pelecehan seksual dengan kata-kata (verbal)

  • Menunjuk atau menyebut orang dewasa sebagai seorang cewek (girl), cowok (hunk), boneka, sayang (babe), atau ‘honey’. Contohnya saat memanggil seorang rekan kerja, “Cowok sini dong!”, atau saat bertemu dengan seorang rekan kerja perempuan di pagi hari, “Boneka Barbie ku, cantik sekali pagi ini!”, “Babe, kemana aja?”, dan seterusnya.
  • Bersiul pada seseorang entah itu kepada laki-laki atau perempuan. (Baca: Bersiul Menggoda Perempuan adalah Tindakan Kriminal).
  • Cat Calls contohnya, “Hai cowo gangguin kita dong!”, “Mau kemana neng malam-malam?”, “Sini neng deketin abang biar abang tepuk pantatnya”, “Kok cemberut amat?”, dan lain-lain.
  • Pernyataan seksual tentang pakaian seseorang, bentuk tubuh, atau penampilan. Contohnya, “Si Santy baru melahirkan keliatan seperti hot moms banget, toketnya kenceng”.
  • Godaan, gurauan, komentar, atau pertanyaan seksual yang tidak diinginkan. Contohnya, “Ah loe sok jijik, paling juga kalau udah dimasukin ketagihan!”.
  • Mengubah tema pembicaraan menjadi topik seksual. Contohnya saat sedang membicarakan pekerjaan tiba-tiba topiknya beralih ke hal-hal seksual.
  • Bertanya tentang fantasi seksual, orientasi seksual, atau sejarah seksual. “Kamu senangnya gaya apa saat di tempat tidur?”, “Kamu gay yah?” atau “Kamu pernah bercinta dengan janda?”.
  • Bertanya pertanyaan pribadi mengenai kehidupan sosial dan seks.
  • Mengeluarkan suara seperti berciuman, mengaum, atau mengecap-ngecap bibir (smacking lips).
  • Berulang kali mengajak seseorang yang tidak tertarik pada kamu.
  • Berbicara bohong atau bergosip tentang kehidupan seks seseorang.
  • Mendesak untuk bertemu padahal dia tidak menginginkannya.
  • Surat, panggilan telepon, atau bahan-bahan bersifat seksual yang tidak diinginkan. Contohnya saat kamu menelepon rekan kerjamu dengan memanggilnya sayang.
  • Pernyataan seksual.
  • Sindiran-sindiran atau cerita-cerita seksual.
  • Tanda bernada seksual.

Pelecehan seksual tanpa kata-kata (non-verbal)

  • Melihat orang dari atas ke bawah seperti sedang memeriksa tubuhnya.
  • Menatap seseorang.
  • Menghalangi jalan seseorang secara sengaja.
  • Berkeliaran di sekitar seseorang.
  • Mengikuti seseorang.
  • Memberikan hadiah yang bersifat pribadi seperti pakaian dalam Victoria Secret, dan lain-lain.
  • Penampilan dan gerakan seksual yang tidak diinginkan, seperti menirukan orang yang sedang melakukan oral seks, dan lain-lain.
  • Membuat gerak-gerik seksual dengan tangan  atau lewat gerakan tubuh.
  • Membuat Ekspresi wajah, mengedip, throwing kisses, atau menjilat lidah.

Pelecehan seksual secara fisik

  • Memberi pijatan di leher atau di pundak.
  • Menyentuh pakaian, rambut, atau tubuh.
  • Memeluk, mencium, menepuk, atau membelai.
  • Menyentuh atau menggosok diri secara seksual terhadap orang lain. Contohnya menggosok alat kelamin atau payudara di kereta yang sedang penuh.
  • Berdiri sangat dekat atau menggosok seseorang.
  • Tindakan atau percobaan pemerkosaan atau penyerangan seksual.
  • Desakan yang tidak diinginkan untuk kenikmatan seksual.
  • Sentuhan, bersandar, menyudutkan, atau mencubit yang tidak diinginkan.

Seperti inilah contoh beberapa tindakan pelecehan seksual menurut EEOC. Saya yakin bahwa setiap orang tanpa disadari atau tidak disadari bahkan secara sengaja atau tidak sengaja, pasti pernah menjadi pelaku dan korban dari pelecehan seksual.

Tempat wisata di Kapal Pesiar

Bersahabat dengan budaya lain bukan berarti kehilangan identitas. Akan tetapi nilai utama adalah menjadi diri sendiri

Akan tetapi perlu diingat bahwa jika memang tidak berniat melakukan pelecehan seksual, ada baiknya meminta maaf. Hal ini pun berlaku jika tanpa kita sadari melakukan pelecehan seksual, maka perlu meminta maaf.

Contohnya, ketika kita bertemu rekan kerja, kita menyapa dia sambil menyentuh pundaknya. Rekan kerja itu terlihat tidak senang dengan apa yang kita lakukan pada dirinya meskipun menyentuh pundak di kebudayaan kita adalah hal yang normal dan menunjukkan bahwa kita berteman dengannya. Jika hal itu terjadi, ada baiknya untuk segera meminta maaf.

Secara singkat saya akan simpulkan demikian, mungkin contoh-contoh di atas adalah hal yang lumrah. Akan tetapi hal yang lumrah menurut kita belum tentu lumrah menurut orang lain.

Salah satu contoh kasus yang saya dapatkan dipelatihan. Bagi orang Inggris, contohnya, hal lumrah untuk bilang, “May I have sit here, love!” tetapi bagi orang asia, contohnya seorang perempuan Filipina, kata itu dipahami, “Bolehkah aku duduk di sini, sayang?”. Bagi orang Inggris dan Asia kata “love” punya makna berbeda. Yang satu menganggap kata yang lumrah diucapkan di negaranya tetapi yang lain memaknai sebagai keintiman.

Jika budaya kita tanpa sengaja terbawa di kebudayaan orang lain dan menimbulkan rasa tidak nyaman antara satu dengan yang lain maka katakan maaf. Atau ketika berhadapan dengan situasi berdesak-desakan di commuter line yang sangat penuh. Di depan kita ada seorang perempuan dan tanpa sengaja alat kelamin kita menyentuh bokong si perempuan. Jika kamu berada dalam situasi ini maka katakan maaf dan berusaha mengubah posisi untuk menunjukkan bahwa tindakan tersebut bukan di sengaja dan tidak punya niat untuk melakukan tindakan itu.

Tempat wisata di Kapal Pesiar

Saat saya menyelesaikan dua pelatihan sekaligus: Supervisory Training dan Leadership Training

Akan tetapi sayangnya saya melihat beberapa situasi yang terjadi di commuter line yang penuh sesak adalah orang tidak peka dan tidak mudah meminta maaf. Bukannya berusaha memperbaiki malah seakan-akan menganggap apa yang terjadi itu hal lumrah, “Wong kereta sedang penuh kok!” atau malah menikmati dengan tetap mengesek-gesekkan alat kelamin ke tubuh seseorang. Akibatnya harus berurusan dengan pihak berwajib.

Jadi memang menurut saya meskipun suasana commuter line sedang penuh tetap kita harus menghormati dan melaksanakan batasan-batasan tersebut. Hal ini pun saya lakukan tidak hanya di tempat kerja tetapi menjadi kebiasaan sehari-hari ketika berinteraksi dengan orang lain. Inilah salah satu kunci sukses jika ingin mempunyai banyak teman dari berbagai negara yaitu menghargai orang lain dan menghindari melakukan pelecehan seksual.

Kelemahannya adalah kadang orang Indonesia itu di kepalanya berisi adegan-adegan Hollywood dan membuat prasangka bahwa bule itu murahan dan gampang diajak bercinta. Atau jika ingin punya banyak teman bule maka harus jadi anak party dan dugem setiap malam. Padahal kunci dalam menjalin sebuah hubungan adalah sikap saling menghargai.

Semoga tulisan ini bisa bermanfaat terutama para penjelajah dunia yang ingin lebih mengenal kebudayaan asing dengan cara membangun hubungan dengan orang lain.

Tempat wisata di Kapal Pesiar

Melaksanakan aturan dengan benar berarti memberikan kesempatan bagi diri kita untuk terus menikmati kehidupan

Salam, Jelajah Dunia 

Advertisements

3 comments

  1. […] satu pelatihan yang pernah saya ulas dalam tulisan saya sebelumnya adalah pelecehan seksual. Kali ini saya ingin menampilkan pelatihan mengenai evakuasi ketika para crew atau para penumpang […]

    Like

  2. […] penilaian kita terhadap moralitas seseorang ditentukan dari mana dia bekerja?  Apakah penyimpangan seksualitas, perselingkuhan, seks bebas, alkohol, narkotika hanya dilakukan oleh pelaut atau kah hal tersebut […]

    Like

  3. […] inilah refleksi saya ketika saya menjalani hari-hari menikmati perjalanan dan bekerja di Holland America Line. Di dunia itu sungguh tidak nyaman. Setiap saat banyak yang datang dan pergi. Kapten kapal […]

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: