Romo Ndito dan Kesetiaan Panggilan Imamat

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Pastor Diosesan Yuventius Ndito Martawi, Pr

Salah satu sosok yang menginspirasi hidup saya adalah Pastor Diosesan Yuventius Ndito Martawi, Pr atau akrab disapa Romo Ndito. Perkenalan dengan Romo Ndito dimulai ketika saya masih mengenyam pendidikan di Seminari Wacana Bhakti. Saat di seminari, semua siswa diwajibkan untuk sowan (menghadap kepada orang yang dianggap harus dihormati atau berkunjung) ke pastor parokinya masing-masing saat liburan. Tujuan sowan adalah agar siswa seminari bisa menggunakan waktu liburnya untuk tetap aktif dan membantu kegiatan di parokinya masing-masing.

Anjuran tersebut rutin saya lakukan semenjak Paroki St. Bonaventura, Pulomas dipimpin oleh Pastor Diosesan Hieronymus Sridanto Ariwibowo, Pr. Bagi saya, sowan itu tidak hanya sekedar aktif di paroki saja tetapi juga sekaligus memperkenalkan diri kita dengan lingkungan kita sendiri. Jika umat mengenal calon imam di wilayahnya maka mereka pun akan mendoakan agar apa pun perjalanan dan pilihan yang saya tempuh adalah yang terbaik di hadapan Tuhan.

Suatu ketika saya mendapat kesempatan dari Seminari Menengah Wacana Bhakti untuk libur dan pulang ke rumah. Seperti biasa, saya menggunakan kesempatan ini untuk datang ke paroki dan sowan ke pastor paroki. Saat itu Romo Ndito adalah pastor yang baru mendapatkan penempatan tugas di Paroki St. Bonaventura, pulomas dan perkenalan saya dengan Romo Ndito berlangsung secara baik. Kesan pertama kali bertemu dengan Romo Ndito adalah Romo Ndito itu bukanlah sosok yang sombong dan angkuh, dia adalah sosok pastor yang ramah dan kebapaan. Dia tidak menampilkan diri sebagai pastor yang pintar tetapi menyimpan kepintarannya dan menampilkan dirinya secara sederhana sebagai seorang imam katolik.

Awalnya saya berpendapat jika ingin menjadi seorang pastor, saya harus pintar dan cerdas melebihi umat. Untuk menjadi pastor menurut saya bisa memecahkan persoalan umat dan memberi petunjuk yang cerdas kepada umat. Akan tetapi, apa yang saya pelajari dari sosok Romo Ndito sangat berbeda dengan anggapan awal saya menjadi seorang imam katolik yang ideal.

bandung-dan-tangkuban-2

Rekreasi Karyawan Paroki St. Bonaventura, Pulomas di Gunung Tangkuban Perahu

Ketika saya di seminari, saya mempelajari banyak hal dari Romo Ndito. Saya sering diajak jalan-jalan dan makan di pastoran. Dengan demikian secara langsung sejak awal saya sudah diperkenalkan dengan kehidupan para imam katolik. Pernah beberapa kali saya juga diajak rekreasi bersama-sama dengan para karyawan Paroki Bonaventura, Pulomas di Bandung. Saya juga mengenal pertama kali Pulau Bali karena diajak oleh Romo Ndito. Saya juga sering menginap di pastoran, bahkan setelah saya memutuskan untuk keluar dari seminari dan melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Romo Ndito tetap memperlakukan sama ketika saya masih di seminari.

Ada suatu pengalaman yang tidak pernah saya lupakan sampai saat ini yaitu ketika Romo Ndito mengajak saya ke Singapura dan Malaysia. Perjalanan ke Singapura dan Malaysia adalah pengalaman pertama saya menginjak negeri luar. Saya juga ingat Romo Ndito meluangkan waktunya untuk mengantar saya ke kantor imigrasi untuk pengurusan paspor. Ada satu kalimat yang saya ingat ketika itu, “Arthur jika sekali ke luar negeri, kamu pasti akan ke luar negeri terus”. Suatu kalimat sekaligus doa yang saya ingat terucap dari Romo Ndito. Ketika saya menginjakkan kaki di setiap negara yang saya kunjungi, ucapan Romo Ndito itu selalu saya ingat.

bali-2

Ubud Bali

Romo Ndito juga begitu perhatian dengan kegiatan di parokinya. Salah satunya adalah Komisi Komunikasi Sosial. Ketika itu saya dan beberapa teman-teman punya mimpi untuk membangun Komisi Komunikasi Sosial Paroki Bonaventura secara profesional tetapi juga kompak. Siang malam kita bekerja keras untuk menerbitkan kembali Majalah Mercu Ventura dengan format dan gaya berita yang baru. 98% yang terlibat di dalamnya adalah orang muda yang punya semangat dan mimpi dan sampai akhirnya majalah tersebut terbit. Di balik kerja keras kami, di situ ada Romo Ndito. Romo Ndito tidak memberi dukungan dengan ide-ide atau seperti seorang manager tetapi dia memberi kepercayaan kepada kami orang muda yang penuh dengan ide-ide segar. Tidah heran jika setiap malam, Romo Ndito selalu membawakan kami makanan, bahkan pernah beberapa kali kami diajak jalan makan bersama-sama.

Saya teringat ketika masih di Seminari Wacana Bhakti, saya ingin pamit kembali ke seminari. Saat itu Romo Ndito dan Romo Pranata memberi uang saku dan semenjak itu saya sering mendapatkan uang saku. Uang saku yang Romo Ndito berikan sering saya tabung atau digunakan entah untuk membeli buku, jajan dan membayar uang sekolah. Bahkan uang saku tersebut saya gunakan untuk membayar uang kuliah dan memberi berbagai perlengkapan ketika saya akan berangkat bekerja di Holland America Line.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Pernah suatu ketika saat berada di atas kapal Ms. Noordam, saya dimarahi oleh hotel manager. Saat itu adalah hari yang berat dan saya kemudian menghubungi Romo Ndito dari tengah lautan. Romo Ndito saat itu tidak memberi saya wejangan-wejangan luar biasa tetapi dia mendengarkan setiap kata, keluh kesah, rasa sedih yang saya alami saat itu. Dia tidak menjaga jarak, tetapi dia menyelami dan menjadi seorang Arthur yang sedang menghadapi masalah. Itulah yang membuat Romo Ndito adalah sosok yang berbeda dengan yang lain.

Bahkan ketika saya pulang dari perjalanan panjang saya selama 514 hari di Ms. Zaandam, Romo Ndito adalah orang pertama yang menjemput kedatangan saya di Bandar Udara Soekarno-Hatta setelah berjam-jam penerbangan dari Kota Seattle. Di saat itulah saya pertama kali menggunakan uang rupiah pertama kali dari penghasilan saya di kapal pesiar untuk mentraktir Romo Ndito. Pengeluaran yang tidak seberapa tetapi itu adalah salah satu bentuk syukur saya.

SINGAPURA DAN MALAYSIA (15)

Menara Petronas, Malaysia

Saya percaya bahwa penampilan terbaik apa pun itu pasti tidak pernah cukup untuk memuaskan keinginan setiap orang. Banyak opini dan cerita-cerita miring seputar Romo Ndito bahkan kerap dibumbui gosip-gosip yang semakin diasah semakin seru terdengar. Akan tetapi selama lebih dari 15 tahun saya mengenal Romo Ndito, bagi saya dia adalah sosok terbaik yang menginspirasi hidup saya. Setiap pagi Romo Ndito selalu bangun tepat waktu dan kadang saya sering melihat Romo Ndito doa rosario. Dia tidak pernah absen untuk mengucap syukur lewat doa dan dia tidak pernah absen untuk berdoa Malaikat Tuhan. Setiap makanan yang diberikan oleh umat, pasti dicicipi oleh Romo Ndito. Suatu ketika Romo Ndito pernah bilang ke saya bahwa meskipun ia sudah kenyang tetapi ia tetap mencicipi makanan yang umat berikan sebagai bentuk syukur sekaligus terima kasih atas perhatian yang mereka berikan.

Orang bisa bicara macam-macam tetapi pada akhirnya ketulusan itu hadir dalam perjumpaan sehari-hari. Kita tahu bahwa tidak ada orang yang sempurna di dunia ini bahkan para santo santa dan orang-orang kudus pun harus mengalami jatuh bangun dalam menjalani kehidupannya. Sama halnya dengan Romo Ndito, dia juga bukan orang yang sempurna. Akan tetapi bukan ketidaksempurnaannya yang saya lihat, tetapi contoh hidupnya untuk selalu konsisten menjalani panggilan hidup sebagai seorang pastor di tengah rasa jenuh dan sepi adalah nilai yang sudah jarang dan sangat berharga ditemukan di jaman ini. Kesetiaan dalam menjalani panggilan hidup dan mengisinya serta memberi bobot atas panggilan hidup selibat itulah yang utama menurut saya.

Saya dan istri sangat berbahagia bahwa sakramen pernikahan kami diberkati salah satunya oleh Romo Ndito. Saya selalu berdoa semoga kehidupan rumah tangga kami seperti cara hidup yang diselami dan dijalani oleh Romo Ndito. Sebuah rumah tangga yang selalu bersyukur, selalu membantu sesama, rumah tangga yang murah hati, rumah tangga yang selalu konsisten dan setiap saat memperbaiki diri. Nilai-nilai itulah yang saya pelajari dari sosok Romo Ndito.

Perjalanan saya mengelilingi dunia tidak pernah lepas dari sosok Romo Ndito. Ketika saya jatuh, ia selalu ada mendengarkan keluh kesah dan hadir di dalamnya. Dan semoga perjalanan imamat Romo Ndito tetap kekal abadi dan menjadi inspirasi bagi banyak orang.

Salam, Si Penjelajah Dunia 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: