Sebuah Kisah Cinta Héloïse dan Abélard

God knows I never sought anything in you except yourself. I wanted simply you, nothing of yours.
― Heloise, The Letters of Abélard and Héloïse

20140527_104351

Makam Héloïse dan Abélard di Pemakaman Pére Lachaise

Jika mengunjungi Kota Paris, jangan pernah melewatkan untuk berkunjungi ke salah satu tempat wisata di Kota Paris yaitu pemakaman Pére Lachaise. Di pemakaman ini kita bisa melihat berbagai nisan menarik dengan patung atau berbagai karya seni. Selain itu di tempat ini dimakamkan orang-orang terkenal yang merubah dunia. Untuk itulah pemakaman ini menjadi salah satu tempat wisata yang perlu dikunjungi.

Mungkin terdengar aneh jika saya mengatakan bahwa sebuah pemakaman bisa menjadi tempat wisata. Akan tetapi saya mempunyai kesan kebanyakan pemakaman di Eropa terlihat unik sehingga banyak sekali pengunjung datang ke tempat ini dan menjadikan pemakaman merupakan salah satu tempat wisata. Salah satu tempat wisata yang sangat dikenal di pemakaman Pére Lachaise adalah makam Heloise dan Abélard.

Tidak ada batasan yang jelas ketika seseorang mengalami jatuh cinta. Ada banyak kisah cinta yang sering kita dengar entah kisah seorang bangsawan yang jatuh hati dengan rakyat jelata, kisah sepasang manusia yang saling mencintai meski mendapat penolakan dari keluarga karena berbeda keyakinan, atau kisah cinta seorang Cinderella yang bertemu dan jatuh hati dengan putra mahkota kerajaan. Semua kisah cinta itu ada yang berakhir dengan kebahagiaan dan ada yang berakhir dengan tragedi, bahkan membutuhkan ratusan tahun untuk bersatu kembali.

Salah satu kisah cinta yang luar biasa dan tetap dikenang sampai hari ini terjadi pada abad 12 di Kota Paris, Perancis yaitu kisah cinta Héloïse dan Abélard. Kisah cinta Heloise dan Abélard mirip kisah cinta Xiau Lung Nu (Idy Chan) dan Yo ko (Andy Lau) dalam film serial The Condor Heroes yang terkenal pada tahun 90-an di Indonesia. Kisah Héloïse dan Abélard adalah kisah guru dan murid. Pada jamannya seorang guru seharusnya tidak jatuh cinta dengan muridnya. Hal inilah yang membuat hubungan cinta mereka adalah hubungan terlarang.

SONY DSC

Makam Héloïse dan Abélard di Pemakaman Pére Lachaise

Pierre Abélard lahir sekitar tahun 1079 merupakan filsuf skolastik abad pertengahan, seorang teolog sekaligus ahli logika. Héloïse lahir antara tahun 1090-1100 adalah biarawati perancis, penulis, cendekiawan sekaligus kepala biara. Héloïse adalah keponakan dari Fulbert, seorang yang mempunyai posisi gerejawi sebagai canon of the Notre Dame Cathedral. Hubungan perselingkuhan dan cinta mereka berdua telah menjadi sebuah kisah yang legendaris sampai saat ini.

Héloïse dan Abélard adalah salah satu kisah sejarah tentang cinta sejati yang menginspirasi sampai saat ini. Pertemuan mereka berdua dimulai sekitar 900 tahun yang lalu tepatnya pada abad ke 12.  Saat itu Héloïse berusia muda serta berbakat intelektual, berusaha mencari kebenaran dan jawaban atas pertanyaan eksistensi manusia. Pada jaman itu hanya satu orang yang dapat memberikan pendidikan yang ia cari dan itu adalah AbélardAbélard saat itu adalah salah satu guru dan filsuf yang sangat terkenal di Paris. Héloïse terpaut 20 tahun lebih tua dari Abélard, meski demikian, Abélard menjadi tertarik dengan Héloïse karena kecerdasannya. Hubungan mereka kemudian berlanjut tidak hanya sebatas hubungan guru dan murid, melainkan hubungan itu tumbuh menjadi hasrat dan cinta. Mereka berdua menyadari bahwa saat itu hukum jelas melarang hubungan tersebut.

img_6337

Makam Héloïse dan Abélard di Pemakaman Pére Lachaise

Pada akhirnya Héloïse mengandung seorang anak laki-laki dan mereka menyadari bahwa hal ini bukan menjadi hal yang baik bagi mereka berdua jika tetap tinggal di Paris. Pada akhirnya mereka kemudian melarikan diri ke Brittany di Barat Laut Perancis. Brittany merupakan tempat kelahiran dari Abélard. Untuk melindungi harga diri keponakannya yang telah tercemar dan agar Héloïse bisa kembali ke Paris, Canon Fulbert kemudian mengatur perkawinan rahasia Héloïse dan Abélard. Akan tetapi setelah Héloïse dan Abélard menikah, mereka menemukan kenyataan bahwa rencana Fulbert sebenarnya ingin menghancurkan Abélard dan menjaga Héloïse untuk dirinya sendiri. Héloïse kemudian menyelamatkan dirinya ke biara di Argenteuil, akan tetapi malang nasib Abélard. Fulbert, percaya bahwa Abélard ingin menyingkirkan Héloïse dengan cara memaksanya untuk menjadi biarawati, bersama dengan sekelompok orang masuk ke kamar Abélard di Paris yang kemudian menyerang dan mengebirinya.

Kejadian yang menimpa Abélard merupakan sebuah siksaan sehingga ia memutuskan untuk tidak melanjutkan profesinya sebagai guru di Notre Dame. Saat itu Canon Bedell meminta kepada Abélard untuk tidak bersikeras bersama Héloïse. Mereka berdua kemudian setuju untuk mengambil tahbisan sebagai biarawan dan biarawati. Dalam hal ini, Héloïse harus merelakan anaknya dan tidak bertemu dengannya lagi.

img_6340

Kehidupan biara membuat mereka berdua terpisah. Akan tetapi selama 20 tahun terpisah mereka masih saling berhubungan lewat surat menyurat dan cinta mereka terus berkembang. Suatu ketika Héloïse dan Abélard sempat bertemu secara singkat dalam suatu perayaan di Paris. Saat itu mereka menyadari bahwa cinta yang mereka bagikan satu sama lain adalah alasan dari eksistensi manusia, alasan dari keberadaan manusia. Sebuah jawaban yang dicari oleh seorang Héloïse muda dahulu kala saat ia pertama kali bertemu dengan Abélard. Setelah itu, mereka tidak pernah bertemu kembali .

600 tahun kemudian, Josephine Bonaparte, mengagumi dan merasa tersentuh dengan kisah Héloïse dan Abélard . Ia memerintahkan agar sisa-sisa dari tubuh Héloïse dan Abélard dimakamkan bersama di pemakaman  Pére Lachaise, Paris. Dibutuhkan lebih dari 600 tahun agar mereka bisa bersatu kembali. Sampai saat ini, para pengagum Héloïse dan Abélard dari seluruh dunia mengunjungi makam di mana sisa-sisa dari Héloïse dan Abélard beristirahat selamanya bersama-sama.

20140527_104207

Makam Héloïse dan Abélard di Pemakaman Pére Lachaise

Perjumpaan saya dengan kedua tokoh Héloïse dan Abélard berawal ketika saya melakukan penelitian tentang Seks, Erotisisme dan Cinta. Kisah hidup kedua tokoh ini menarik perhatian saya saat itu dan tentu saja kisah mereka adalah kisah legenda besar dan terus hidup sampai saat ini. Sumbangan terbesar dari surat menyurat Héloïse dan Abélard salah satunya adalah sumbangan pemikiran bagi para feminisme radikal abad ke 12 bahkan sampai saat ini. Salah satunya Héloïse menyebut bahwa pernikahan merupakan sebuah ‘kontrak prostitusi’. Salah satu buku yang saya baca dan merupakan buku yang sangat terkenal antara Héloïse dan Abélard adalah buku yang berjudul The Story of His Calamities. 

Pemakaman Pére Lachaise adalah pemakaman yang tidak hanya berisi tulang belulang yang terbujur kaku atau menghadirkan suasana mistis yang tenang tetapi dibaliknya berisi sebuah kisah hidup yang luar biasa dan melegenda. Sebuah kisah cinta Héloïse dan Abélard.

Salam, Jelajah Dunia

 

 

Advertisements

9 comments

  1. Kisah dan tempat yang menariik, asik banget mas! 🙌

    Like

  2. […] jalan-jalan di Kota Paris jangan lewatkan kesempatan untuk berkunjung di salah satu tempat wisata bersejarah di […]

    Like

  3. […] satu tempat wisata di Kota Paris ini dirancang oleh Ange-Jacques Gabriel pada tahun 1755 di antara Champs-Élysées di sebelah […]

    Like

  4. […] tempat wisata yang menarik yang saya temukan dalam perjalanan di Kota Paris. Sama halnya dengan Kota Roma, di setiap sisi kota tersebut kita bisa menemukan berbagai warisan […]

    Like

  5. […] luar. Sebenarnya di dalam Palais Garnier bisa ditemukan Bibliothèque-Musée de l’Opéra de Paris meski museum ini tidak lagi dikelola oleh opera karena bagian dari Bibliothèque nationale de […]

    Like

  6. […] untuk mengunjungi salah satu pemakaman tertua di Kota Paris yaitu Pemakaman Père Lachaise, saya terlebih dahulu melakukan penelitian siapa saja tokoh yang dimakamkan di tempat ini dan di […]

    Like

  7. […] berbelanja adalah pasar jalanan yang juga pernah saya temukan ketika saya melakukan perjalanan di Kota Paris. Saya mengunjungi pasar di Kota Sochi saat itu untuk mencari hadiah bagi Thom dan Gina […]

    Like

  8. […] Hubungan Indonesia dan Tunisia sudah terjalin sejak tahun 1951. Pada tahun tersebut, Habib Bourguiba sendiri datang ke Indonesia untuk meminta dukungan bagi kemerdekaan Tunisia. Peran Indonesia saat itu jelas membantu rakyat Tunisia untuk memperoleh kemerdekaannya. Tunisia juga dilibatkan dalam Konferensi Asia Afrika pada tahun 1955 meski masih  berstatus peninjau dari Afrika Utara karena masih dijajah oleh Perancis. […]

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: