Pelaut Dalam Bingkai Moralitas

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Tulisan ini adalah renungan tentang bagaimana setiap orang punya kesempatan untuk meraih mimpi-mimpinya dan punya kesempatan untuk mendapatkan penilaian yang bijaksana tentang kehidupan yang diperjuangkan dan buah-buah hidup yang dihasilkan.

Moral dan Pekerjaan

Kesan apa yang kita pikirkan tentang seseorang yang bekerja di atas kapal? Saya akan mencoba memberi daftar panjang kesan orang awam terhadap pelaut:

1. Pelaut sering main perempuan atau ganti-ganti pasangan.
2. Pelaut sering minum minuman beralkohol dan suka mabuk-mabukan.
3. Pelaut punya hobi judi.
4. Pelaut bermulut besar.
5. Pelaut tukang bohong, sering mengaku kalau dia punya posisi tinggi padahal tidak.
6. Pelaut saat di darat hobinya hura-hura.
7. Pelaut jarang pulang.
8. Pelaut punya banyak pacar diberbagai tempat.
9. Pelaut tidak setia.
10. Jika mempunyai hubungan dengan pelaut beresiko tinggi ditinggalkan.
11. Pelaut punya uang banyak.
12. Pelaut punya barang-barang mewah.
13. Pelaut suka traktir teman-temannya dan foya-foya.
14. Jika uangnya habis, pelaut akan kembali lagi bekerja di kapal.

Beberapa teman pernah bertanya kepada saya ketika saya mulai menuliskan kisah perjalanan di berbagai tempat di seluruh dunia di dalam blog sipenjelajahdunia. Sebagai orang yang sudah menikah, apakah hal itu tidak menganggu hubungan pernikahan saya ketika saya menampilkan foto-foto bersama seorang bule? Apa kata saudara-saudara, teman-teman dan orang lain tentang diri saya jika mereka melihat foto-foto tersebut?

Saya juga pernah bertanya ke beberapa teman, “Menurut kamu ketika saya menyebut kata pelaut, apa yang ada di pikiran kamu tentang seorang pelaut?” Jawabannya tidak jauh berbeda dengan yang di atas. Semua orang menjawab hal yang sama yaitu, pelaut bukan orang yang setia, hidupnya penuh dengan hura-hura dan tidak punya moral.

19667_243813923786_660368786_3477402_5987250_n

Suasana Natal di Atas Ms. Zaandam

Dari berbagai stereotype yang muncul tentang sosok seorang pelaut, pertanyaan saya adalah, “Bukankah hal-hal yang disebutkan di atas tentang sosok seorang pelaut juga dilakukan dan dimiliki oleh orang-orang yang bekerja di darat? Apakah penilaian kita terhadap moralitas seseorang ditentukan dari mana dia bekerja?  Apakah penyimpangan seksualitas, perselingkuhan, seks bebas, alkohol, narkotika hanya dilakukan oleh pelaut atau kah hal tersebut juga dilakukan oleh para pekerja di darat?

Jika saya melewati daerah Mangga Besar di Jakarta, di sana bertebaran diskotik, panti pijat dan tempat pelacuran. Pernah saya melihat di perempatan jalan Mangga Besar, seorang perempuan berjalan sempoyongan masuk ke dalam taksi. Selain itu, sudah menjadi rahasia umum jika kita melihat tulisan Karoke and Spa atau panti pijat di Jakarta, di dalamnya juga menawarkan jasa esek-esek. Pertanyaan saya adalah, apakah para pengguna jasa esek-esek atau si perempuan yang berjalan sempoyongan masuk ke dalam taksi tadi adalah pelaut?

Apakah kita sudah pernah membaca buku Jakarta Undercover dari Moammar Emka? Di sana jelas digambarkan tentang masyarakat Kota Jakarta yang penuh dengan kehidupan hingar bingar dan seks bebas. Apakah kita masih berpikir bahwa Moammar Emka mengisahkan tentang kehidupan pelaut di Kota Jakarta? Apakah anggota DPR yang pernah tersangkut skandal video porno dengan seorang artis juga seorang pelaut? Bukankah orang yang bekerja di darat punya kesempatan untuk ke tempat pelacuran lebih besar ketimbang pelaut?

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Salah satu Dining Room Manager terbaik di Holland America Line. Mr. Andre

Tujuan saya dengan berbagai pertanyaan di atas ingin menunjukkan bahwa moralitas itu tidak terkait dengan profesi pekerjaan tetapi lebih terkait dengan pribadi seseorang.

Apakah seorang yang beragama bisa menjamin dirinya lebih bermoral ketimbang seorang pelaut? Salah satu keprihatinan saya adalah kerap orang yang beragama itu lebih arogan dan mudah menilai orang lain tetapi sulit untuk menilai diri sendiri.

Lewat tulisan ini, sebenarnya saya ingin memberi kritik terhadap pola pikir kita yang kerap kali menilai moralitas orang lain dari profesi pekerjaannya. Kritik saya adalah jangan terlalu mudah menilai moralitas seseorang dari profesi pekerjaannya melainkan hal yang bijaksana adalah melihat buah kebaikan apa yang dihasilkan dan pengorbanan apa yang diberikan selama dia hidup.

Kehidupan Pelaut

Ketika saya masih menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, saya punya cita-cita untuk melanjutkan pendidikan saya ke jenjang yang lebih tinggi. Saya adalah seorang pemimpi yang punya mimpi untuk melihat dunia dan mengunjungi tempat-tempat yang hanya bisa saya baca dari buku-buku sejarah.

Setiap malam menjelang tidur, saya sering menghayal bahwa saya menjadi seorang penjelajah yang mengunjungi berbagai tempat di dunia. Di rumah kos-kosan itu, saya juga bermimpi suatu saat nanti saya bisa mempunyai rumah sendiri dengan halaman yang bisa saya tanami berbagai tanaman.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Saya awalnya tidak menyangka mendapat kesempatan untuk bekerja di atas kapal pesiar Holland America Line di bawah perusahaan Dianthus International sebagai florist manager. Sebagai seorang fresh graduate, karir saya melompat ke middle management dengan status petty officer. Semua itu terjadi karena saya berani menempuh resiko dan mau mencoba hal-hal baru.

Menurut saya pekerjaan apa pun harus ditekuni, meski itu adalah pekerjaan yang tidak pernah saya jalani sebelumnya dan tidak pernah pilih-pilih pekerjaan. Bagi saya sebuah pekerjaan baru yang belum pernah saya tekuni sebelumnya adalah tantangan tersendiri dan tentu saja ini adalah kesempatan untuk belajar hal baru.

4 tahun 29 hari saya menekuni pekerjaan di kapal pesiar dan selama empat tahun itu saya sudah mengunjungi negara-negara yang dulu saya impikan menjelang tidur. Di dalam kapal pesiar yang besar dengan dunia yang kecil, saya melihat banyak orang yang berjuang dalam kehidupannya. Mereka rela meninggalkan istri, anak, keluarga dan orang tuanya selama hampir satu tahun agar kehidupannya bisa lebih baik.

Saya hadir di atas kapal karena saya ingin membuat mimpi saya menjadi kenyataan yaitu melihat dunia, membeli rumah dan melanjutkan pendidikan S2 di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Ada beberapa kisah sehari-hari yang saya ditemukan selama menjalani kehidupan dan bekerja di atas kapal pesiar. Suatu ketika saya berbincang, di depan pintu masuk kapal, dengan Donna yang sedang membagikan Purell hand sanitizer kepada setiap tamu yang akan masuk ke dalam kapal.

Donna adalah nama perempuan dengan jenis kelamin laki-laki. Ia adalah waria yang bekerja sebagai Dinning Room Steward. Donna bercerita kalau dia bekerja di atas kapal ini untuk menghidupi orang tua dan adik-adiknya yang sedang bersekolah. Dia bahkan rela kontraknya diperpanjang sampai satu tahun meski dia sangat merindukan untuk berkumpul dengan keluarganya di saat lebaran tiba.

Adek namanya, bekerja sebagai Pinnacle Grill waitress, suatu ketika menghubungi keluarganya dan mendapatkan informasi bahwa mobil miliknya mengalami kecelakaan saat digunakan oleh adiknya dan Adek harus mengirimkan uang untuk perbaikan mobil tersebut.

Atau kisah lainnya tentang seorang Dinning Room Steward yang mendapatkan informasi jika pacarnya sudah menikah padahal setiap bulan ia selalu rutin mengirimkan uang kepada pacarnya itu.

Kisah yang lain dari seorang Cabin Steward. Setelah ia menghubungi rumahnya, ia baru mengetahui bahwa istrinya pergi dengan laki-laki lain.

Inilah sisi-sisi kehidupan pelaut yang tidak dilihat oleh orang-orang yang bekerja di darat. Mereka hanya melihat bahwa pelaut itu punya banyak uang tetapi mereka tidak melihat bahwa di situ ada pengorbanan dan mimpi yang ingin dicapai. Di situ ada perjuangan yang mereka korbankan untuk orang-orang yang mereka cintai di rumah. Mereka rela bekerja lebih dari 11 jam sehari sampai kontrak mereka berakhir tanpa ada satu hari libur.

Kita hanya melihat foto-foto yang menurut kita adalah foto mesra tetapi itu adalah hal yang lumrah di sana bahwa rangkulan dan pelukan adalah ekspresi bahwa kita adalah sahabat dan keluarga.

Ketika mencium pipi seorang bule, seakan-akan pikiran kita menghubungkannya dengan seks bebas. Atau saat tos dengan wine, seakan-akan identik dengan mabuk-mabukan tetapi apakah kita tidak pernah melihat bahwa tos juga adalah hal yang sudah biasa dalam acara pernikahan sebagai bentuk perayaan.

Saya sadar betul bahwa orang akan mudah menilai kehidupan saya sebagai pelaut sama seperti pandangan orang-orang pada umumnya. Untuk itulah kisah sipenjelajahdunia tidak hanya menampilkan narasi kota-kota di dunia tetapi di dalamnya juga hadir kehidupan, persahabatan dan tantangan, agar foto-foto yang ditampilkan bukanlah wajah bisu yang bisa diartikan bermacam-macam melainkan sebuah narasi yang sedang bercerita.

dsc_0199

Bersama salah satu penumpang Mr. Samuel

Siapa bilang pelaut itu tidak memiliki cinta dan kesetiaan. Saya punya seorang teman baik di kapal bernama Kristen the cast member. Kristen adalah sosok yang cantik, menarik dan sangat bersahabat. Dia begitu setia dengan pacarnya di tengah-tengah godaan para officer yang mencoba mendekatinya. Atau seorang Amanda the cast member yang akhirnya rela mengundurkan diri dari pekerjaannya karena ia lebih memilih untuk mempertahankan hubungannya.

Siapa bilang semua bule-bule itu gampangan, setidaknya kita bisa melihat dengan dewasa bahwa film dan dunia nyata itu berbeda. Film bisa mengisahkan tentang dunia nyata akan tetapi dunia nyata juga tidak sepenuhnya tergambar di dalam film. Film hanyalah sebagian adegan kecil dari apa yang kita sebut kehidupan, akan tetapi bukan berarti film adalah realitas.

Seorang teman pernah bertanya, “Apakah di dalam kapal pesiar itu suka ada cilok (cinta lokasi)?”. Banyak juga dari teman-teman yang bekerja di kapal pesiar menemukan pasangan hidupnya. Courtney the cast member adalah salah satu perempuan yang berbahagia yang menemukan pasangan hidupnya di atas kapal sampai sekarang.

Akan tetapi tidak semua hubungan percintaan juga berhasil di sini, bahkan karena jarak yang memisahkan dan masing-masing bekerja di kapal yang berbeda, akhirnya hubungan mereka berakhir.

Gengsi dan Hura-Hura

Suatu ketika saya pernah didatangi oleh seorang Cabin Steward. Alasannya karena saya kebetulan dekat dengan Laura. Laura berasal dari Jerman. Saya dekat dengan dia karena pekerjaan saya juga terkait dengan tugasnya sebagai Guest Relation Supervisor di Ms. Maasdam.

Laura adalah orang yang sangat ramah dan bersahabat, suatu kali dia pernah mengatakan bahwa jika saya berkunjung ke Jerman saya bisa menghubungi dia meski kita sudah lama tidak berkomunikasi. Menurut saya, Laura adalah salah satu teman terbaik ketika saya bekerja di Ms. Zaandam.

dsc01524

Cabin steward yang mendatangi saya saat itu dengan bangganya menceritakan bahwa Laura membangun hubungan intim dengan dia dan dia sudah sering bercinta dengannya. Bahkan dia dengan rinci mendeskripsikan setiap kata-kata cinta yang Laura katakan pada dia. Akan tetapi pada kenyataannya, semua itu hanya di pikiran si cabin steward.

Orang-orang seperti ini juga banyak ditemukan di kapal pesiar. Mereka berusaha membangun sebuah citra diri kalau mereka orang-orang macho. Semakin banyak tidur dengan banyak perempuan adalah kebanggaan kalau mereka laki-laki sejati, padahal belum tentu itu terjadi.

Pernah salah satu crew terpergok keluar dari kamar seorang perempuan, dengan bangganya si crew bilang kalau dia habis tidur dengan perempuan itu. Pada kenyataannya, jika kita melihat keseluruhan kejadian dari awal sampai akhir (bukan hanya kejadian saat keluar kamar) si crew hanya mengantar makanan dari room service. Seakan-akan orang tersebut mendapatkan jati dirinya dan kebanggaan penuh dari hubungan seks dengan bule.

Dimas namanya, seorang bar steward, suatu kali bertemu dengan saya di Jakarta. Wajahnya acak-acakan seperti kurang tidur. Dimas dalam waktu dua malam sudah menghabiskan uang jutaan untuk pesta dan mabuk-mabukan dengan berbagai perempuan. Uang itu adalah jerih payah yang dia kumpulkan saat dia bekerja di kapal pesiar.

Jika kita masuk ke kehidupan di dalam kapal pesiar, kita bisa melihat bahwa setiap orang di dalam kapal bekerja keras mengumpulkan uang. Potong rambut dihargai USD 5, mie goreng dan nasi uduk dijual USD 2, atau mau laudry cukup USD 5. Jasa apa pun di sini bisa dibuat bisnis yang menghasilkan uang dan menjadi rahasia umum bahwa barang-barang perusahaan dijual untuk kepentingan pribadi. Akan tetapi pada kenyataannya, uang-uang yang sudah dikumpulkan dengan susah payah itu bisa habis dalam semalam ketika mereka sampai di Indonesia. Biasanya ingin pamer dan menunjukkan kalau mereka orang yang sukses.

dsc01536

Di Ms. Zaandam, saya kenal dengan seorang cabin inspector yang diturunkan menjadi cabin steward. Saking cintanya dengan perempuan di kapal, dia tidak segan memberikan hadiah-hadiah untuk perempuan di kapal. Bahkan suatu ketika, ia pernah membiayai tiket seorang pelacur untuk terbang di kota-kota yang dikunjungi oleh kapal pesiar tempatnya bekerja.

Salah seorang yang bekerja di storeroom suatu ketika marah-marah kepada anaknya karena meminta dibelikan laptop saat dia menghubungi rumahnya. Dia bilang ke anaknya kalau dia bekerja keras dengan gaji kecil, dan anaknya cuma bisa menuntut dibelikan ini dan itu.

Akan tetapi apa yang tidak diketahui oleh keluarganya adalah, setiap malam si ayah hobinya mabuk-mabukan dan sangat royal terhadap perempuan. Pernah salah satu perempuan di kapal dibelikan laptop tetapi anaknya yang membutuhkan untuk belajar atau sekedar main game malah tidak pernah dibelikan dengan alasan tidak punya uang.

ms-zaandam-032

Biasanya orang-orang seperti ini tidak punya tujuan yang bernilai dalam hidupnya dan hanya mengejar kesenangan sesaat. Tujuannya cuma satu yaitu dipandang kekinian dan gengsi besar. Setiap hari selalu ke starbuck atau menghabiskan waktu liburnya untuk bepergian ke sana ke mari dan mentraktir orang-orang. Uangnya habis hanya karena gengsi. Setelah itu, mereka akan kembali ke kapal dan bekerja keras mengumpulkan uang dari nol, dan seterusnya sampai akhirnya mereka sadar bahwa mereka tidak menghasilkan apa-apa selama mereka bekerja di atas kapal. Akan tetapi karena sudah kepalang tanggung bukannya memperbaiki diri tetapi menerima nasib dan terus menerus melakukan hal yang sama.

Inilah sepenggal kisah tentang kehidupan pelaut. Benar memang ada orang-orang yang seperti kita pikirkan tetapi tidak semua pelaut seperti itu. Sama halnya tidak semua orang yang bekerja di darat moralitasnya lebih baik ketimbang pelaut. Moralitas tersebut ditentukan dari pribadi bukan dari pekerjaannya.

Mimpi yang Menjadi Nyata

Saya bekerja di Holland America Line dari tahun 2008 sampai 2012, tepatnya 1.491 hari. Pada tahun 2012 saya memutuskan untuk berhenti bekerja di kapal pesiar karena ingin melanjutkan kuliah. Tujuan saya tidak hanya melanjutkan kuliah tetapi ingin lebih dekat dengan orang yang saya cintai. Empat tahun dengan ratusan kota yang sudah saya kunjungi, saya rasa cukup untuk melanjutkan mimpi saya yang telah saya capai.

dsc01539

Setelah bekerja di kapal pesiar dan menabung hasil jerih payah itu, akhirnya pada tahun 2014 saya bisa memiliki rumah kecil dengan luas 90 meter persegi  yang saya beli dengan tangan saya sendiri. Pada tahun 2016 saya resmi menyandang gelar magister humaniora dan menyusun tesis tentang etika lingkungan hidup. Semua pencapaian ini karena saya punya kesempatan bekerja di kapal pesiar. Saya menggunakan uang secara bijak, bukan untuk dihambur-hamburkan tetapi digunakan untuk tujuan yang lebih besar.

Saya juga punya begitu banyak teman yang tersebar di seluruh dunia. Teman-teman yang baik hati yang tidak pernah sedikit pun saya manfaatkan untuk kesenangan pribadi. Tahun 2014, saya berkesempatan berkunjung ke Belanda dan saya menyadari bahwa buah dari sebuah hubungan yang sehat akan saya rasakan kemudian.

Saya bisa menginap di Wijdenes dan Zwolle, merasakan keramahtamahan penduduk di pedesaan Belanda karena saya bisa menjaga sebuah hubungan yang sehat dengan orang lain, bukan karena hasrat seksual. Menurut saya, kesenangan dan kepuasaan sesaat itu hanya berhenti saat itu juga tetapi membangun hubungan yang sehat akan terus kita rasakan selamanya.

imgp0122

Christmas Eve Dinner Ms. Zaandam 2008 Lido Restaurant

Tulisan ini adalah sebuah renungan untuk kita semua bahwa setiap orang punya kesempatan untuk meraih mimpi-mimpinya. Kita tidak akan pernah menyangka bahwa orang yang setiap hari kita bully saat di sekolah atau kita remehkan karena gendut dan jelek, malah di masa depan nanti ia menjadi direktur atau menjadi artis cantik yang terkenal.

Jangan pernah sekali pun kita merasa ketika berada di atas orang lain, kita meremehkan orang itu, yang ada malah suatu hari nanti bisa jadi masa depan kita bergantung pada kebijakannya. Jadi hendaknya bijak untuk memberi sebuah penilaian kepada orang lain sama seperti kita pun berharap orang lain menilai kita dengan bijaksana.

Salam, Jelajah Dunia

Advertisements

2 comments

  1. […] kehidupan yang jelas berbeda dengan kehidupan saya dibesarkan. Jika saya selalu berpikir ini salah dan ini benar, maka saya tidak akan pernah belajar dan mengalami pengalaman yang kaya dalam melakukan perjalanan […]

    Like

  2. […] halnya ketika saya melakoni pekerjaan di Holland America Line sebagai florist manager, pekerjaan yang benar-benar baru bahkan saya sendiri tidak punya ide […]

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: