Para Penari Telanjang di Ensenada, Meksiko

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Suasana Carnaval de Ensenada

Salah satu kota yang menjadi tempat wisata yang wajib dikunjungi di Meksiko adalah Kota Ensenada. Saya tiba di kota ini setelah mengarungi Samudera Pasifik selama 4 hari dari kepulauan Hawai’i menuju San Diego, USA.

Kota Ensenada sangat dekat sekali dengan Kota San Diego. Akan tetapi sebelum masuk ke Kota San Diego, Ms. Zaandam harus mampir ke Kota Ensenada terlebih dahulu. Kenapa demikian?

Informasi ini penting bagi para penjelajah dunia yang ingin melakukan perjalanan dengan kapal pesiar. Hal ini erat kaitannya dengan Hukum Federal Amerika Serikat yang melarang kapal berbendera asing untuk berdagang dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain di sepanjang pantai Amerika Serikat. Tujuan dari aturan ini adalah ingin memberikan insentif dan perlakuan istimewa bagi kapal berbendera Amerika dibandingkan dengan kapal berbendera asing.

Undang-undang ini adalah Merchant Marine Act of 1920 atau dikenal dengan The Jones Act. Dalam undang-undang ini mengatur bahwa segala kebutuhan yang ditransportasikan di laut antar pelabuhan Amerika harus dibawa dengan kapal berbendera Amerika Serikat, dibuat di Amerika Serikat, dimiliki oleh warga negara Amerika Serikat dan mempekerjakan warga negara Amerika Serikat.

Inilah alasan kenapa Holland America Line tidak bisa melakukan perjalanan langsung dari homeport ke homeport di Amerika Serikat melainkan harus keluar wilayah Amerika Serikat karena Holland America Line merupakan kapal yang didaftarkan di negara bukan Amerika dan mempekerjakan karyawan dari berbagai latar kewarganegaraan.

dscf0272

Kota Ensenada di siang hari

Untuk menuju Kota Ensenada, dibutuhkan waktu empat hari perjalanan menembus Samudera Pasifik dari Hawai’i. Samudera Pasifik itu menurut saya unik, jika cuaca sedang bagus, rasanya seperti sedang berlayar di danau tanpa ombak. Akan tetapi jika cuaca sedang buruk, saya cuma berharap-harap ada yang berjalan di atas air untuk menenangkan lautan.

Waktu berkunjung di Kota Ensenada sangat singkat, kadang kapal sandar di malam hari hanya beberapa jam kemudian kembali berlayar menuju San Diego dan sangat jarang kapal berlabuh di siang hari. Selama 514 hari di Ms. Zaandam, saya hanya menikmati satu kali kapal berlabuh di Pelabuhan Ensenada pada siang hari.

Kota Ensenada juga kaya akan tempat wisata kuliner. Ketika Ms. Zaandam bersandar di siang hari, saya bertualang bersama Joko untuk mencicipi kekhasan makanan lokal Meksiko. Hanya satu agenda saya dan Joko yaitu mencari makanan yang benar-benar ciri khas Kota Ensenada. Sejijik dan sekotor apa pun makanan yang disajikan, tidak akan menghalangi kami untuk menikmati keunikan lokal Kota Ensenada. Alhasil, saya bisa menikmati Nacho Cheese Dip dan Tacos. Olala!banana!… enak banget!

Setelah menikmati Nacho Cheese Dip dan Tacos, saya dan Joko mencoba makanan jalanan kerang coklat segar ala Meksiko, rasanya aneh tetapi bolehlah untuk kesan pertama.

dscf9227

Arthur, Melanie dan Kainoa De La Cruz

Selain menikmati makanan Meksiko, di tempat inilah saya pertama kali mencicipi minuman margarita di bar dekat dengan pelabuhan. Jujur saja, saya bukan seorang peminum alkohol yang baik karena hanya dua kali meneguk margarita, muka saya langsung memerah dan napas menjadi sesak.

Itulah pengalaman pertama mencicipi margarita. Akan tetapi hal ini sulit jika kita bersosialisasi dengan teman-teman bule yang tidak bisa hidup tanpa alkohol sedangkan kita tidak bisa minum alkohol. Biasanya saya mensiasati dengan minum air yang banyak atau sebelumnya minum olive oil, meski tetap tidak bisa menghabiskan keseluruhan minuman setidaknya saya punya waktu untuk bersosialisasi.

Di kota ini lah saya pertama kali kenal dekat dengan seorang teman bernama Melanie dari Austria. Melanie bekerja di Shorex Excursion dan orangnya sangat ramah serta baik hati. Dia adalah orang pertama yang luar biasa baik hati yang saya kenal sampai saat ini. Kadang Melanie sering menginformasikan dan menawarkan paket-paket tour mengunjungi tempat wisata di setiap kota yang kami kunjungi. Makanya saya bisa mengunjungi tempat wisata indah selama perjalanan saya di Hawai’i.

dscn0042

Menikmati Nasi Goreng bersama Patrice di Ensenada

Makanan di kapal pesiar itu semuanya enak hanya saja membosankan. Mau makanan barat apa pun ada dan saya bisa makan apa saja. Akan tetapi hanya satu yang kurang, kadang rotasi makanannya mingguan.

Jadi kalau hari rabu salah satu menunya Grilled Lamb Shoulder Steaks, pasti rabu berikutnya Grilled Lamb Shoulder Steaks akan selalu muncul. Awalnya memang menyenangkan tapi bisa dibayangkan jika itu berulang selama 514 hari saya disini.

Untuk itulah salah satu tujuan saya di Kota Ensenada untuk melepas kejenuhan karena menu yang berulang adalah makan di Chinese Food yang terdapat di pusat kota. Satu porsi makanan di tempat ini seakan disajikan untuk para raksasa karena porsinya sangat besar.

Saya seringkali bersama teman menyantap bersama di Chinese Restaurant salah satunya bersama dengan Patrice dari Perancis. Orangnya juga baik hati dan ramah. Sebelum dia pulang ke negaranya, saya beserta teman-teman yang lain diajak makan bersama di tempat ini.

Pertama kali menginjakkan kaki di kota ini, udaranya sangat dingin di malam hari bahkan kerap berkabut dan seringkali kapal tidak merapat di kota ini. Kota Ensenada sendiri merupakan kota ketiga terbesar di Baja California dan merupakan salah satu kota pesisir Meksiko.

Saya beruntung sekali ketika tiba di kota ini saat berlangsungnya Carnaval de Ensenada. Seakan seluruh penduduk tumpah ke jalan dan merayakan pesta festival tahunan Ensenada dengan meriah. Mereka berdansa, bernyanyi, dan bersenang-senang. Hal ini tidak pernah saya temui seumur hidup saya melihat satu kota berpesta pora.

Carnaval de Ensenada adalah salah satu festival tahunan yang berlangsung secara meriah di kota ini dan menjadi salah satu daya tarik wisata di Kota Ensenada.

Di karnaval ini saya menemukan banyak relawan yang membagi-bagikan kondom secara gratis di sudut-sudut kota. Kondom bukanlah hal tabu untuk dibagikan atau merupakan salah satu simbol untuk melegalkan seks bebas. Hal itu tentu salah kaprah jika kondom identik dengan seks bebas.

Awalnya saya menyangka itu permen karet jadi saat dibagikan yah saya terima saja sampai jumlahnya ratusan dengan berbagai ukuran tersimpan di jaket hitam yang saya gunakan. Kondom-kondom itu akhirnya saya bagikan di rumah saat saya kembali ke Indonesia tahun 2009.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Kota ini mudah ditemukan bar-bar yang menyediakan para penari telanjang dan tersebar di penjuru kota bahkan bar-bar tersebut saling bertetangga satu dengan yang lain. Para pengunjung di tempat ini tidak hanya laki-laki tetapi banyak juga perempuan. Kadang hanya sebatas bersenang-senang saja untuk menyaksikan penari telanjang beraksi di atas panggung. Striptease bar yang tersebardi penjuru kota adalah salah satu ikon tempat wisata di kota ini.

Di kota inilah saya pertama kali mengunjungi striptease bar bersama dengan para officer Ms. Zaandam untuk merayakan ulang tahun Nelleke. Nelleke juga salah satu teman dekat di Ms. Zaandam, bahkan pada tahun 2014 saya sempat berkunjung ke tempatnya di Agnietenberg, Zwolle, Netherlands.

Saya ingat betul saat itu beberapa teman mengajak salah satu penari telanjang ke meja dan memaksa Nelleke memegang payudara penari tersebut. Hal itu merupakan kenangan paling lucu saat melihat wajah Nelleke yang canggung.

img_23331

Out for food in Ensedana with Jennifer, Samantha, Arthur, Chantel, Lena. Courtesy of Sean Allen, Ms. Zaandam Crew

Bar dengan penari telanjang tidak melulu dipahami sebagai aktivitas seksual atau otomatis orang yang masuk ke sini akan berhubungan seksual. Setiap orang berkunjung ke bar ingin menemukan kesenangan dan melepas kejenuhan keseharian dengan bersosialisasi.

Setidaknya itu yang bisa saya pelajari ketika bersentuhan dengan kehidupan yang jelas berbeda dengan kehidupan saya dibesarkan. Jika saya selalu berpikir ini salah dan ini benar, maka saya tidak akan pernah belajar dan mengalami pengalaman yang kaya dalam melakukan perjalanan mengunjungi berbagai kota di dunia.

Salah dan benar hanya membuat saya menghakimi orang lain dan budaya lain serta melihat diri kita lebih sempurna dibandingkan orang lain, inilah kelemahan dari orang Indonesia. Mereka selalu berpikir salah dan benar bukan baik atau tidak baik. Akhirnya malah mereka sendiri yang merasa jauh dan terkucil dengan budaya lain atau malah kebablasan masuk ke seks bebas, narkotika dan minuman keras.

Saya sendiri tidak merasa bahwa dengan menyaksikan penari telanjang maka saya akan tergoda untuk melakukan hubungan seksual, sama halnya dengan teman-teman yang juga menikmati suasana menyenangkan bisa berkumpul dan bergurau bersama, tidak melulu selalu seks.

Permasalahannya adalah bahwa dalam bertindak apakah berakibat baik atau tidak baik. Contohnya saya sadar betul jika saya minum alkohol maka muka saya akan memerah, napas sesak dan terlihat seperti orang mabuk. Hal ini tentu tidak baik karena bukannya saya bisa bersosialisasi dengan baik, yang ada mungkin saya bisa menjadi orang aneh yang ikut-ikutan.

dscf0273

Pengalaman di kota ini mengajarkan begitu banyak hal tentang bagaimana saya melihat moralitas. Saya bisa saja membuat diri saya hancur dengan mabuk-mabukan, narkotika, atau seks bebas tetapi jika saya melakukan hal ini, maka saya tidak akan pernah meraih impian untuk melanjutkan pendidikan S2 filsafat dan mendapatkan gelar Magister Humaniora atau membeli rumah bahkan menikahi seorang perempuan yang sangat saya cintai.

Ada satu waktu saya sangat bersyukur dididik dalam keluarga yang pas-pasan dan dibentuk dalam dunia yang sangat sederhana tetapi penuh dengan impian besar.

Kisah Kota Ensenada saya pilih sebagai refleksi saya bagaimana saya selalu memilih untuk kehidupan yang baik dan berusaha menjadi baik. Dari Kota Ensenada, saya menuju ke sebuah dunia luas yang tidak pernah saya bayangkan semenjak saya lahir.

Salam, Jelajah Dunia

Advertisements

3 comments

  1. […] Rice atau nasi goreng yang dimasak dengan daun bawang, kacang polong. Menurut saya masih lebih enak nasi goreng tektek di […]

    Like

  2. […] bersama dengan The Cast Member, saya juga sering mengeksplorasi pulau ini bersama Joko dan berkunjung ke Pantai Kahaluu. Di Pantai Kahaluu inilah saya dan Joko sempat ditegur oleh […]

    Like

  3. […] pernah membayangkan bisa menikmati hangatnya matahari di kepulauan Hawai’i atau menikmati piña colada di Pulau Grand Turk. Saya hanya bermimpi dan berharap jika suatu hari bisa berkeliling […]

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: