Di sini Semua Dimulai

arthur-kecil-14

Udah keliatan dari kecil seorang penjelajah dunia

“Oekkkk…oekkkk”, ini bukan suara muntah tetapi ini tangis bayi baru lahir. Saya cuma membayangkan apakah saat saya lahir langsung nangis atau kah perlu ditepuk-tepuk sampe terdengar, “oekkk!”. Terlepas dari tagis masa kecil, saya punya kisah sendiri tentang perjalanan luar biasa yang ditempuh bersama kapal pesiar Holland America Line. Kita mulai kisahnya!

Bulan Juni 2007, saat itu saya baru lulus dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Gelar Sarjana Sastra, dan jurusan Filsafat. Kalau orang-orang pada umumnya pasti bingung dia mau jadi apa kalau masuk jurusan filsafat tetapi saya berbeda. Saat saya menentukan mau masuk jurusan apa, saya sudah tahu ingin jadi apa. Jujur saja kalau saya ingin sekali masuk Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB) atau masuk Universitas Gajah Mada (UGM). Jaman Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) dulu, pilihan kedua Teknik Nuklir di UGM dan pilihan pertama di UI jurusan Psikologi. Meski saya lulusan IPA, sayangnya tidak mampu nembus SPMB. Itu salah satu kegagalan saya. Akan tetapi kegagalan itu cuma salah satu bunga-bunga kehidupan. Dari semenjak SMA di Kolese Gonzaga, hobi saya adalah menulis. Tulisan saya pernah diterbitkan di Kompas dengan honor penulisan Rp. 400.000. Tidak ada salahnya kan kalau saya mengambil jurusan yang bisa mengasah kemampuan menulis. Selain itu jika menjadi seorang wartawan, saya pasti akan bertemu dengan orang-orang yang luar biasa dengan segudang pengalamannya dan akan mengunjungi tempat-tempat yang selalu saya khayalkan setiap malam menjelang tidur.

Nah cikal bakal saya masuk STF Driyarkara bukan jurusan jurnalistik alasannya begini. Pertama-tama sebelum SPMB, saya lulus tes masuk di STF Driyarkara. Dan kedua, saya ini orang susah. Saya tidak punya uang dan orang tua juga bukan orang berada. Ke kampus saja sehari-hari naik sepeda, saat di SMA dibantu sama gereja untuk pendidikan di Kolese Gonzaga plus karena saya  salah satu seminaris di Wacana Bhakti dapat subsidi silang dari teman-teman yang sekolah di Kolese Gonzaga. Sebelum kisah ini bercerita lebih jauh, saya ingin mengucapkan terima kasih untuk teman-teman Gonzaga dan umat paroki St. Bonaventura.

IMG_1706

Pernah masuk  profile majalah hidup Tahun 2002. Ketampanannya sudah mentok segini.

Saat itu saya tidak punya fasilitas apa pun dan yang tersedia hanya fasilitas yang disediakan oleh Seminari Wacana Bhakti. Buku saja pinjam dari kakak kelas (Terima kasih Novie dan Dinda), baju olahraga juga pinjaman (Terima kasih Marina Sitohang) dan uang saku diperoleh dari Pastor Ndito Martawi Pr. Uangnya saya gunakan untuk bayar sekolah dan kadang untuk jajan nasi goreng kalau sudah tidak kuat lagi makan tempe dan tahu setiap hari. Intinya dengan kondisi yang seperti ini, menurut hitung-hitungan keuangan hanya STF Driyarkara yang cocok di kantong. Pada akhirnya saya tetap bersyukur tidak di terima di SPMB karena ternyata setelah dihitung belum tentu saya mampu untuk kuliah secara jatuhnya tetap mahal. Pertama uang transportasi, uang makan, uang buku, uang kuliah dan lain-lain. Saya bisa putus sekolah saat itu kalau bersikeras dengan kemauan untuk masuk UI.

Meski jurusan saya filsafat, tetapi saya masih percaya dengan Tuhan. Hidup ini saya biarkan mengalir apa adanya meski saya juga punya rencana. Saya benar-benar menyadari bahwa lulusan filsafat itu jarang membuat kita menjadi orang kaya raya bahkan kalau tidak kreatif, selama hidup bisa jadi pengangguran atau pegawai rendahan. Cuma saya  tidak mau kalah dengan pendapat orang. Saya cuma punya proposal dan proposal itu yang saya serahkan ke yang namanya Tuhan. Ada tiga hal yang selalu saya pegang saat kuliah jika masa depan menjadi lebih baik. Pertama, kerja keras, kedua, kreatif dan ketiga, kejujuran. Itu prinsip saya yang selalu dipegang teguh sampai saat ini.

Prinsip pertama adalah kerja keras. Saya bukan dilahirkan di keluarga yang kaya raya. Akan tetapi bukan karena pas-pasan, saya cuma meratapi nasib. Saya harus kerja keras kalau tidak ingin menjadi pengangguran setelah lulus kuliah. Saat semester pertama, saya menghubungi Frater Kokoh Prihartanto (sekarang sudah pastor). Saya utarakan sendiri keinginan belajar menjadi wartawan. Alhasil, saya kemudian diminta untuk bertemu dengan Rm. Greg Soetomo yang saat itu adalah pemimpin redaksi majalah Hidup. Uang saku yang selalu saya tabung dan diberikan oleh Pastor Ndito Martawi saya gunakan untuk mencari kantor Majalah Hidup. Jujur saja saat itu saya sangat grogi bertemu dengan Romo Greg. Saya tidak kenal siapa Romo Greg dan saat bertemu dengannya, cengkraman saat bersalaman sangat kuat dengan gaya bicara yang penuh keyakinan dan percaya diri. Dari situ saya punya keyakinan bahwa saya tidak akan sia-sia belajar di tempat ini.

Tugas pertama dari Romo Greg adalah membuat resensi buku. Saat itu saya diminta ke perpustakaan Majalah Hidup dan membaca buku kemudian membuat resensi. Saat itu resmi juga saya menyentuh dunia kerja meski baru semester pertama di STF Driyarkara. Untuk menjadi seorang kontributor itu tidak mudah, kadang saya naik turun bis, mencari alamat, mencari narasumber, wawancara dan lain-lain. Semua saya lakukan demi belajar meski ada juga harapan bisa mendapat penghasilan tambahan. Selain di Majalah Hidup, saya juga punya berbagai pekerjaan sampingan seperti menjadi guru jurnalistik di SMP Tarakanita Barito atas referensi dari Romo Angga, dan jadi pewawancara untuk litbang kompas. Di Litbang Kompas saat itu yang jadi penanggungjawab adalah angkatan pertama Wacana Bhakti bernama Benny Satrio. Saya akhirnya bisa bertemu dengan si legenda Benny Satrio. Benny Satrio bisa dibilang melegenda karena dia adalah pencipta syair Mars Kolese Gonzaga. Orangnya cool, cerdas dan sabar. Melihat sosok Benny Satrio saya sadar bahwa pasti akan banyak belajar dari dia.

jambore-16-19

Jambore di Ungaran, Jawa Tengah SMU Kolese Gonzaga

Prinsip kedua yaitu kreatif. Menurut saya kerja keras tetapi tidak punya kreatifitas malah tidak berhasil. Sedikit pengalaman yang agak memalukan. Saat itu memang saya punya berbagai pekerjaan sampingan dan punya berbagai pemasukan. Ayah saya seorang sopir dan ibu penjahit. Gaji sopir saat itu paling Rp. 2.500.000 sedangkan ibu penghasilan tidak menentu. Mereka juga harus bayar uang kuliah adik saya di Politeknik UI yang mahalnya 4 kali lipat dari uang kuliah di STF Driyarkara. Kadang ibu bilang kalau dia lagi tidak ada uang jadi tolong sampaikan ke pihak STF Driyarkara apa bisa pembayarannya dicicil dulu. Saya saat itu bilang, “Bisa Ma kalau dicicil 100.000/bulan”. Saat itu uang kuliah 25.000/sks setiap tahun naik Rp. 5.000/sks. Singkat cerita tidak ada yang kuliah yang bisa dicicil jadi uang-uang dari pekerjaan sampingan yang saya tabung, saya gunakan untuk membayar uang kuliah dan ibu setiap bulan memberi uang kuliah seakan-akan diperbolehkan kalau bayar uang kuliah dicicil. Alasan saya saat itu sederhana, pasti semester berikutnya ibu tidak ada uang tunai jadi uang yang ia beri setiap bulan bisa saya gunakan untuk membayar semester depan dan seterusnya. Kalau toh ibu tidak ada uang, saya juga tidak memaksa dan bilang kalau STF Driyarkara tidak seketat seperti Politeknik UI. Uang cicilan ibu juga saya gunakan untuk modal seperti fotokopi, beli buku, transportasi dan lain-lain. Bahkan sering saya  makan siang di asrama seminari tinggi jika ada kuliah siang jadi tidak perlu keluar uang makan atau jika ingin mencetak tugas, saya sering menitipkan tugas ke teman-teman di seminari tinggi untuk dicetak. Hal ini mustahil kalau saya tidak punya kemampuan negosiasi dan networking. Kemampuan ini saya dapatkan di organisasi kemahasiswaan. Meski kerja sampingan sana-sini tetapi saya pernah terpilih jadi ketua pencinta alam dan ketua senat bagian kemahasiswaan.

Prinsip ketiga yaitu kejujuran. Kreatifitas kalau tidak dikendalikan dengan bijak bisa membuat hati kita tumpul dan bahkan menjadi seorang pembohong sejati. akan tetapi jika punya kejujuran, saya selalu yakin akan berada di jalan yang benar. Di SMP saya dikenal sebagai raja nyontek dengan segudang kreatifitas mencontek. Dari cara mencontek konvensional dengan menulis di tangan atau di meja sampai ditulis di kaca nako atau ditempelkan di depan meja guru. Akan tetapi semenjak SMA sampai sekarang saya tidak pernah lagi menyontek. Saya  berani bersumpah kalau saya tidak pernah mencontek sampai hari ini. Pertobatan itu dimulai dari perkataan seorang Pastor namanya Pastor F. Kuswardianto saat tahun pertama di seminari, “Seorang seminaris nakal itu wajar tapi kejujuran harus dijunjung tinggi!” Di situ mata saya terbuka kalau ternyata seorang yang berkualitas itu diukur dari kejujurannya. Dan dari situ saya berjanji untuk menggunakan kreatifitas dengan baik dan tidak akan menyontek baik saat ujian mau pun dalam mengerjakan tugas. Jadi yakinlah bahwa IPK yang yang saya peroleh saat S1 (3.14) dan S2 (3.34) adalah benar-benar murni dari kerja keras yang kreatif.

8

Teman-teman di IOM (searah jarum jam) Dewi, Kiki, Arthur, Iwan

Kenapa saya mengatakan kerja keras yang kreatif? Sebelum menjawab pertanyaan ini, saya adalah orang yang kagum dengan sosok-sosok yang menurut saya luar biasa. Salah satu kekaguman saya yaitu dosen di STF Driyarkara namanya Dr. Karlina Supelli. Dr. Karlina Supelli itu orang yang cerdas luar biasa. Tidak ada sosok yang begitu pintar dan cerdas seperti dia yang menginspirasi hidup saya. Singkat kata, saya berusaha untuk mengenal Dr. Karlina. Awalnya dari tanya-tanya soal buku, diskusi-diskusi kecil, bahkan saya pernah mengajak Dr. Karlina menjadi pembimbing untuk mahasiswa pecinta alam di STF Driyarkara. Alhasil saat kemping, kami dibekali rendang yang enak banget. Saya juga sempat menawarkan diri untuk membereskan buku-buku di ruang kerjanya di S2. Selain itu saya pernah mendapat pekerjaan dari Dr. Karlina di International Organization for Migration (IOM) bersama Sius. Dari IOM saya kenal dengan banyak polisi dan teman-teman lain. Saya memanggil dia dengan sapaan Ibu Karlina dan dari dia saya belajar begitu banyak hal, tidak hanya pelajaran filsafat tetapi belajar menjalani kehidupan. Saya memang tidak sepintar kebanyakan orang tapi saya tidak pernah berhenti untuk terus belajar.

Seperti inilah garis besar kisah-kisah sebelum saya mengalami petualangan seru di kapal pesiar Holland America Line. Juni 2007 setelah saya lulus ujian skripsi dan ujian komprehensif, saya akhirnya merasa siap untuk mencoba kehidupan dunia kerja. Kalau saat kuliah masih setengah-setengah antara belajar, bekerja dan berorganisasi kali ini saya ingin menerapkan itu semua di dunia kerja. Meski saya udah memupuk pengalaman, saya kerap ragu apakah ada perusahaan yang akan melirik saya dengan bekal bidang ilmu filsafat. Apalagi filsafat itu terkenal dengan orang-orang yang tidak nyambung. Saat itu dalam mencari pekerjaan, saya tidak memilih-milih. Dengan modal surat keterangan lulus (saat itu sertifikat belum selesai), saya melamar ke perusahaan-perusahaan apa saja yang sedang membuka lowongan pekerjaan. Dari seratus lamaran mungkin hanya tiga yang dipanggil untuk wawancara. Saya kadang putus asa apakah memang tindakan saya sudah tepat atau tidak. Suatu kali saya pernah dipanggil wawancara oleh Koran Suara Pembaruan. Saat itu saya diwawancara oleh sembilan wartawan di sana. Hampir sebulan menunggu panggilan kerja, akhirnya Suara Pembaruan menghubungi untuk tes psikologi tetapi sayangnya saya tidak bisa karena hari jumat itu akan terbang ke Singapura. Lho kok bisa?

SINGAPURA DAN MALAYSIA (1)

Orchard Road Singapura (kiri ke kanan) Pastor Ndito Martawi, Arthur, Nover, Pur

Setelah lulus, otomatis kesibukan pendidikan saya berakhir. Kesibukan saya saat itu hanya melakukan pekerjaan sampingan di Majalah Hidup dan Majalah Mercu Ventura serta mengajar. Saat itu Pastor Ndito berencana pergi ke Singapura dan Malaysia, akhirnya saya diajak. Pastor Ndito saat itu bilang begini, “Arthur jika sekali ke luar negeri, kamu pasti akan ke luar negeri terus.” Saya tidak paham apa artinya tetapi saat itu saya sangat bersemangat karena ini pengalaman pertama seumur hidup. Paspor dan tiket, check! Akan tetapi dua hari sebelum keberangkatan, bunyi suara telepon berdering menyampaikan berita untuk tes psikologi di Suara Pembaruan. Dan dengan berat saya katakan bahwa saya tidak bisa hadir karena akan bepergian ke Singapura. Saat itu saya bertanya, “Apakah ada kesempatan lain?” Orang yang menghubungi mengatakan kalau hanya ini kesempatannya. Akhirnya dia menutup telepon dan terbanglah sudah mimpi bekerja di Suara Pembaruan. Tetapi ada satu pengalaman yang merubah hidup saya sebelum dihubungi Suara Pembaruan untuk tes psikologi, yaitu….

Bersambung

Advertisements

3 comments

  1. […] ini adalah renungan tentang bagaimana setiap orang punya kesempatan untuk meraih mimpi-mimpinya dan punya kesempatan untuk mendapatkan penilaian yang bijaksana tentang kehidupan yang […]

    Like

  2. […] dan berkembang. Apa jadinya jika saya memilih untuk duduk nyaman di rumah ketimbang datang ke Menara Sudirman saat itu? Tentu saya tidak akan pernah belajar seperti apa hospitality industry bahkan saya tidak […]

    Like

  3. […] halnya ketika saya melakoni pekerjaan di Holland America Line sebagai florist manager, pekerjaan yang benar-benar baru bahkan saya sendiri tidak punya ide tentang bunga dan tanaman. […]

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: